Rabu, 25 September 2013

cerita tentang kehidupan~

Hai, kembali lagi sama gue Ghina. Sekarang gue mau nulis sesuatu, bukan cerpen atau puisi,bukan bait ataupun essay. Sebuah kisah renungan yang mungkin bisa memotivasi kalian,membuat kalian mensyukuri apa yang kalian punya. Ini adalah kisah nyata! ‘bukan kisah gue’ tapi ini kisah seorang temen gue yang ga mau disebut namanya dan ada di tengah tengah kita, penasaran? Cekidot!

Hai gue pengen cerita tentang pengalaman hidup gue saat ini. Rasanya gue lagi butuh banget pendengar setia,mungkin lewat kalian gue bisa cerita. Oke kayanya gue ga usah kenalin nama gue soalnya gue ga mau ini ketauan siapa gue, ga penting juga kan gue kenalin siapa gue. Oh ya, ngomong ngomong kalian pernah ga ngalamin rasanya broken home? Atau yaaa berada di lingkungan keluarga broken home gitu. Kalau kalian belum tau rasanya,gue kasih tau! Rasanya hancur banget tiap hari denger orangtua cekcok tentang hal yang ga pernah kita tau apa itu masalahnya,sedangkan gue disini lagi butuh perhatian mereka. Gue Cuma gadis sekolahan yang baru kelas 2 SMA,masih labil,masih butuh perhatian,butuh pengarahan, sedangkan mereka sibuk sendiri sama urusan mereka. Sumpah gue muak banget berada di kehidupan yang kaya gini,tapi gue masih bersyukur karna masih di kasih orangtua.
Mungkin kalian kalau misalkan ada masalah bakal curhat ke temen kalian,tapi gue ga punya temen atau sahabat. Oke temen gue punya,tapi sahabat engga! Sebenernya, dulu gue punya sahabat,tapi pas kelas 10 sahabat itu dinamain ‘ruwed’ soalnya dulu kita bener bener ruwed banget kalau kumpul dan gue ga ngerti apa salah gue tiba-tiba gue dijauhin sama mereka. Gue selalu coba tanya salah gue apa,tapi ga pernah dijawab sama mereka. Gimana gue mau koreksi diri? Gue aja ga pernah buat salah,ya walaupun gue tau pasti gue tempatnya salah,ya walaupun gue yakin kalau gue ga punya salah sama mereka. Sebenernya ini Cuma karna 1 orang, tapi ternyata ngefek ke semua orang. Gue bingung harus gimana,gue juga gatau mau cerita ke siapa. Di kelas,gue Cuma main sama anak cowok. Lo tau kenapa? Karna gue ga ngerti sama pikiran cewe-cewe di kelas gue. Mereka kelompokan, gosip sana sini, ngebully gue. Gue punya temen cewe di kelas Cuma beberapa ya bersyukurlah gue masih punya temen cewe yang care tapi ga senyaman rasanya sama temen-temen gue yang dulu. Gue selalu dikatain cewe jalang,cewe nakal kalau di kelas Cuma gara gara gue main sama cowo. Apa itu salah? Sosialisasi kan ga Cuma sama cewe aja. Kenapa gender selalu di pertanyakan? Kenapa gender selalu di permasalahkan? Gue bingung sama pikiran mereka. Masalahnya ada di 1 sahabat gue yang 1 kelas sama gue sekarang,makanya gue di bully kaya gini. Gue tau keliatannya dia benci banget sama gue tapi gue ga ngerti salah gue apa. Dan sekali lagi gue muak sama keadaan ini.
Gue pernah cerita ke temen cowo gue kalo gue di katain cewe jalang,cewe nakal tapi dia Cuma bilang “gue tau kok dia sebel sama lo karna dia ga bisa jadi lo, kata kata orang yang sebel sama kita itu adalah amplas, kata katanya nyakitin tapi bisalah buat jadi pelajaran kita sendiri,buat koreksi diri kita sendiri, jadi ya sabar kudunya buat hadapin orang kaya gitu, mereka ga tau aja gimana rasanya di caci maki kaya lo,makanya mereka kalau ngomong asal aja,itu saran gue”
Gue coba renungin, kata kata dia bener juga, memotivasi gue buat terus maju. Ga masalah kok gue ga punya sahabat,tapi gue masih punya temen. Ga masalah juga gue broken home,yang penting gimana gue hadapinnya. Ini cerita gue,makasih udah dengerin cerita gue.
-the end-

Gimana gimana? Sedih sedih? Itu cerita temen gue yang bisa memotivasi kalian,saran gue sih kalian jangan pernah luntur dalam suatu masalah,tapi hadapilah masalah itu dan jangan pernah lari dari masalah, thankyou J

Sabtu, 14 September 2013

Janji Terakhir

Janji Terakhir
Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia, meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Daniel, meskipun dia sering menghianati cintaku.

“gue ga tau harus gimana lagi, lo jahat! Lo udah hancurin kepercayaan gue!”

Aku ga sanggup liat matanya dan pada akhirnya air mataku mengalir deras...sangat deras dan saat itu Daniel memelukku kencang seolah tidak ingin melepaskanku

“Nad maafin gue,gue janji ga akan sakitin lo lagi. Kasih 1 kesempatan lagi buat gue sa plissss gue sayang sama lo, jangan nangis lagi ya”

Ya....pada akhirnya aku memaafkan Daniel karena aku sangat menyayanginya

Malam harinya aku dan Daniel pun pergi dinner dan kita melupakan semua hal yang tadi siang terjadi.
Aku bahagia bersamanya ga ada yang bisa misahin kita,apapun itu.

***
Ketika di kampus.......... “Nad kok lo pucet?”ucap Caroline, ya dia sahabat terbaikku bersama Tiara.
“iya gue capek nih kayanya”
Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sih dimainin sama cowok playboy kaya Daniel! Jangan-jangan Daniel gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan” ucap Tiara dengan nada sedikit marah
“lo apa apaan sih sa udah dong Nada kan lagi sakit jangan digituin” ucap Caroline membentak Tiara

Tiara bener, jangan-jangan Daniel gak sayang sama aku, Daniel gak cinta sama aku, itu yang buat Daniel selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Daniel dan takut kehilangan Daniel. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Daniel padaku. Jika benar Daniel tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.

Keesokan harinya,walaupun tak ada jadwal kuliah aku tetap ke kampus buat ngerjain tugas kelompok. Setelah larut malam, aku pun pulang dan ketika di parkiran...OMG! Daniel sama cewe. Entah siapa cewek itu, aku tidak bisa melihat wajahnya. Namun,ketika cewek itu menaiki mobil dan terkena sedikit sinar lampu terlihat jelas bahwa itu Tiara! Sahabatku sendiri. Untuk memastikan hal itu, aku segera raih iphone ku dan menelfon Daniel
“halo bisa jemput gue gak sekarang?”
“maaf Nad gue ga bisa kalau sekarang,lo ga bawa ,mobil?gue lagi anter ibu belanja”
“niel! Sejak kapan lo mau nemenin ibu belanja? Sejak Tiara jadi ibu lo ya?HA!”
“kamu kenapa sayang? Kamu dimana sekarang?”
“Gue liat sendiri lo pergi sama Tiara Nil! lo gak usah bohongin gue! Kali ini gue gak bisa maafin lo! Kenapa lo harus selingkuh sama Tiara Nil? gue benci sama lo! Mulai sekarang gue gak mau liat lo lagi! Kita Putus Nil”
“Tapi Nad..”

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Daniel, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Daniel datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Daniel sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Daniel, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Daniel yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.

Dan hari ini aku memutuskan buat kuliah,yaaa berharap sih ga ketemu Daniel. Tapi ternyata....Daniel sudah dulu berada di hadapanku ketika aku baru masuk gerbang sekolah.
“Nad kamu dengerin aku dulu dong aku sama Tiara ga ada hubungan apa apa,aku Cuma nanyain tentang kamu doang ke Tiara” teriak Daniel sambil berkaca-kaca
“Apasih kita udah putus nil,kita udah ga ada hubungan apa apa lagi,sekarang kamu mau selingkuh juga ga ada yang ngelarang”
Aku pun berlari kencang meninggalkan Daniel,dan ketika Daniel mengejarku...
“jeder!!!!!!!!!!!!!!!” dan........
“Danieeeeeel!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Daniel tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepalanya.

Nil, maafin aku!”
“Nad Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”
“Danieeeel”
Daniel meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Daniel semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Daniel menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani
Daniel didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Satu minggu setelah Daniel meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersamanya yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyumannya, tatapannya, takan pernah bisa kulupakan.

“N
ada sayang, ini ada titipan dari Ibunya Daniel. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Daniel tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”

“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”

Kubuka bingkisan dari Ibu Daniel, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.

    Dear Nada,
    N
ada sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.
    Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
    Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu N
ad.
    Love You
   
Daniel

Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Daniel, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.

“Bu, aku udah nikah sama
Daniel!”

“N
ad, kamu kenapa sayang?”

“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian
Daniel dijari manisku.

“N
ada, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”

“Sekarang aku mau cerai sama
Daniel Bu!” kulepas cincin pemberian Daniel dan memberikannya pada Ibu.

“Aku titip cincin pernikahanku dengan
Daniel Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
*****

Sekian

Tertanda : Ghina Ramadhanty