Janji Terakhir
Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di
sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan
itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa
memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan
dia, meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu,
akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain
tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Daniel,
meskipun dia sering menghianati cintaku.
“gue ga tau harus gimana
lagi, lo jahat! Lo udah hancurin kepercayaan gue!”
Aku ga sanggup liat matanya
dan pada akhirnya air mataku mengalir deras...sangat deras dan saat itu Daniel
memelukku kencang seolah tidak ingin melepaskanku
“Nad maafin gue,gue janji
ga akan sakitin lo lagi. Kasih 1 kesempatan lagi buat gue sa plissss gue sayang
sama lo, jangan nangis lagi ya”
Ya....pada akhirnya aku
memaafkan Daniel karena aku sangat menyayanginya
Malam harinya aku dan
Daniel pun pergi dinner dan kita melupakan semua hal yang tadi siang terjadi.
Aku bahagia bersamanya ga
ada yang bisa misahin kita,apapun itu.
***
Ketika di kampus..........
“Nad kok lo pucet?”ucap Caroline, ya dia sahabat terbaikku bersama Tiara.
“iya gue capek nih
kayanya”
”Jelas
capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sih dimainin sama
cowok playboy kaya Daniel!
Jangan-jangan Daniel gak
sayang sama kamu? Ups, keceplosan” ucap
Tiara dengan nada sedikit marah
“lo apa apaan sih sa udah
dong Nada kan lagi sakit jangan digituin” ucap Caroline membentak Tiara
Tiara bener,
jangan-jangan Daniel gak
sayang sama aku, Daniel gak
cinta sama aku, itu yang buat Daniel selalu
menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena
aku terlalu mencintai Daniel dan
takut kehilangan Daniel.
Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Daniel padaku. Jika benar Daniel tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa
memaafkannya lagi.
Keesokan harinya,walaupun
tak ada jadwal kuliah aku tetap ke kampus buat ngerjain tugas kelompok. Setelah
larut malam, aku pun pulang dan ketika di parkiran...OMG! Daniel sama cewe.
Entah siapa cewek itu, aku tidak bisa melihat wajahnya. Namun,ketika cewek itu
menaiki mobil dan terkena sedikit sinar lampu terlihat jelas bahwa itu Tiara!
Sahabatku sendiri. Untuk memastikan hal itu, aku segera raih iphone ku dan
menelfon Daniel
“halo bisa jemput gue gak
sekarang?”
“maaf Nad gue ga bisa
kalau sekarang,lo ga bawa ,mobil?gue lagi anter ibu belanja”
“niel! Sejak kapan lo mau
nemenin ibu belanja? Sejak Tiara jadi ibu lo ya?HA!”
“kamu kenapa sayang? Kamu
dimana sekarang?”
“Gue liat
sendiri lo pergi
sama Tiara Nil! lo gak usah bohongin gue! Kali ini gue gak bisa
maafin lo! Kenapa lo harus selingkuh sama Tiara Nil? gue benci sama lo! Mulai
sekarang gue gak mau
liat lo lagi!
Kita Putus Nil”
“Tapi Nad..”
Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak
masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung
Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan
mendukung aku untuk melupakan Daniel,
meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Daniel datang
ke rumah dan meminta maaf, bahkan Daniel sempat
semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku
berjanji tidak akan memafkan Daniel, dan
janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Daniel yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia
ingkari.
Dan hari ini aku memutuskan
buat kuliah,yaaa berharap sih ga ketemu Daniel. Tapi ternyata....Daniel sudah
dulu berada di hadapanku ketika aku baru masuk gerbang sekolah.
“Nad kamu dengerin aku
dulu dong aku sama Tiara ga ada hubungan apa apa,aku Cuma nanyain tentang kamu doang
ke Tiara” teriak Daniel sambil berkaca-kaca
“Apasih kita udah putus
nil,kita udah ga ada hubungan apa apa lagi,sekarang kamu mau selingkuh juga ga
ada yang ngelarang”
Aku pun berlari kencang
meninggalkan Daniel,dan ketika Daniel mengejarku...
“jeder!!!!!!!!!!!!!!!”
dan........
“Danieeeeeel!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Daniel tertabrak mobil saat
mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan
bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepalanya.
“Nil, maafin aku!”
“Nil, maafin aku!”
“Nad Ma-af ma-af a-ku jan-ji
jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”
“Danieeeel”
Daniel meninggal saat itu juga,
ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Daniel semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus
menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan,
yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Daniel menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir
dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan
ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika
menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras
membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani Daniel didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Rasanya ingin sekali menemani Daniel didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Satu minggu setelah Daniel meninggal, aku masih menangis, membayangkan
semua kenangan indah bersamanya yang
tidak akan pernah terulang lagi. Senyumannya, tatapannya, takan pernah bisa kulupakan.
“Nada sayang, ini ada titipan dari Ibunya Daniel. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Daniel tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”
“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”
“Nada sayang, ini ada titipan dari Ibunya Daniel. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Daniel tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”
“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”
Kubuka bingkisan dari Ibu Daniel, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah,
mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu
terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.
Dear Nada,
Nada sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.
Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Nad.
Love You
Daniel
Dear Nada,
Nada sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.
Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Nad.
Love You
Daniel
Air mataku mengalir
semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Daniel, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.
“Bu, aku udah nikah sama Daniel!”
“Nad, kamu kenapa sayang?”
“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Daniel dijari manisku.
“Nada, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”
“Sekarang aku mau cerai sama Daniel Bu!” kulepas cincin pemberian Daniel dan memberikannya pada Ibu.
“Aku titip cincin pernikahanku dengan Daniel Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
*****
“Bu, aku udah nikah sama Daniel!”
“Nad, kamu kenapa sayang?”
“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Daniel dijari manisku.
“Nada, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”
“Sekarang aku mau cerai sama Daniel Bu!” kulepas cincin pemberian Daniel dan memberikannya pada Ibu.
“Aku titip cincin pernikahanku dengan Daniel Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
*****
Sekian
Tertanda : Ghina Ramadhanty
Tidak ada komentar:
Posting Komentar