Sabtu, 14 September 2013

Janji Terakhir

Janji Terakhir
Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia, meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Daniel, meskipun dia sering menghianati cintaku.

“gue ga tau harus gimana lagi, lo jahat! Lo udah hancurin kepercayaan gue!”

Aku ga sanggup liat matanya dan pada akhirnya air mataku mengalir deras...sangat deras dan saat itu Daniel memelukku kencang seolah tidak ingin melepaskanku

“Nad maafin gue,gue janji ga akan sakitin lo lagi. Kasih 1 kesempatan lagi buat gue sa plissss gue sayang sama lo, jangan nangis lagi ya”

Ya....pada akhirnya aku memaafkan Daniel karena aku sangat menyayanginya

Malam harinya aku dan Daniel pun pergi dinner dan kita melupakan semua hal yang tadi siang terjadi.
Aku bahagia bersamanya ga ada yang bisa misahin kita,apapun itu.

***
Ketika di kampus.......... “Nad kok lo pucet?”ucap Caroline, ya dia sahabat terbaikku bersama Tiara.
“iya gue capek nih kayanya”
Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sih dimainin sama cowok playboy kaya Daniel! Jangan-jangan Daniel gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan” ucap Tiara dengan nada sedikit marah
“lo apa apaan sih sa udah dong Nada kan lagi sakit jangan digituin” ucap Caroline membentak Tiara

Tiara bener, jangan-jangan Daniel gak sayang sama aku, Daniel gak cinta sama aku, itu yang buat Daniel selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Daniel dan takut kehilangan Daniel. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Daniel padaku. Jika benar Daniel tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.

Keesokan harinya,walaupun tak ada jadwal kuliah aku tetap ke kampus buat ngerjain tugas kelompok. Setelah larut malam, aku pun pulang dan ketika di parkiran...OMG! Daniel sama cewe. Entah siapa cewek itu, aku tidak bisa melihat wajahnya. Namun,ketika cewek itu menaiki mobil dan terkena sedikit sinar lampu terlihat jelas bahwa itu Tiara! Sahabatku sendiri. Untuk memastikan hal itu, aku segera raih iphone ku dan menelfon Daniel
“halo bisa jemput gue gak sekarang?”
“maaf Nad gue ga bisa kalau sekarang,lo ga bawa ,mobil?gue lagi anter ibu belanja”
“niel! Sejak kapan lo mau nemenin ibu belanja? Sejak Tiara jadi ibu lo ya?HA!”
“kamu kenapa sayang? Kamu dimana sekarang?”
“Gue liat sendiri lo pergi sama Tiara Nil! lo gak usah bohongin gue! Kali ini gue gak bisa maafin lo! Kenapa lo harus selingkuh sama Tiara Nil? gue benci sama lo! Mulai sekarang gue gak mau liat lo lagi! Kita Putus Nil”
“Tapi Nad..”

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Daniel, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Daniel datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Daniel sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Daniel, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Daniel yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.

Dan hari ini aku memutuskan buat kuliah,yaaa berharap sih ga ketemu Daniel. Tapi ternyata....Daniel sudah dulu berada di hadapanku ketika aku baru masuk gerbang sekolah.
“Nad kamu dengerin aku dulu dong aku sama Tiara ga ada hubungan apa apa,aku Cuma nanyain tentang kamu doang ke Tiara” teriak Daniel sambil berkaca-kaca
“Apasih kita udah putus nil,kita udah ga ada hubungan apa apa lagi,sekarang kamu mau selingkuh juga ga ada yang ngelarang”
Aku pun berlari kencang meninggalkan Daniel,dan ketika Daniel mengejarku...
“jeder!!!!!!!!!!!!!!!” dan........
“Danieeeeeel!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Daniel tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepalanya.

Nil, maafin aku!”
“Nad Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”
“Danieeeel”
Daniel meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Daniel semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Daniel menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani
Daniel didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Satu minggu setelah Daniel meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersamanya yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyumannya, tatapannya, takan pernah bisa kulupakan.

“N
ada sayang, ini ada titipan dari Ibunya Daniel. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Daniel tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”

“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”

Kubuka bingkisan dari Ibu Daniel, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.

    Dear Nada,
    N
ada sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.
    Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
    Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu N
ad.
    Love You
   
Daniel

Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Daniel, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.

“Bu, aku udah nikah sama
Daniel!”

“N
ad, kamu kenapa sayang?”

“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian
Daniel dijari manisku.

“N
ada, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”

“Sekarang aku mau cerai sama
Daniel Bu!” kulepas cincin pemberian Daniel dan memberikannya pada Ibu.

“Aku titip cincin pernikahanku dengan
Daniel Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
*****

Sekian

Tertanda : Ghina Ramadhanty

Tidak ada komentar:

Posting Komentar